Thursday, 19 April 2007
The Magician�s Nephew, Awal dari Narnia
22:02
Inilah buku keenam dari serial Narnia, karya C.S. Lewis yang mengisahkan awal penciptaan Narnia oleh Aslan. Walaupun diterbitkan sebagai buku keenam (1955) dari tujuh buku Narnia, namun secara kronologi inilah buku pertama. Sebelum buku The Lion, The Witch And The Wardrobe yang ceritanya sudah dianggkat ke layar lebar.
Pada buku inilah, kamu dapat mengetahui bagaimana tiang lampu masuk ke Narnia, darimana asalnya Lemari sebagai tempat masuk Narnia, siapa Profesor Kirke, dan dari mana asalnya Jadis.
Sekelumit cerita
Tanpa bermaksud mengurangi selera keingintahuan mengenai isi buku ini, namun inilah penggalannya. Untuk versi lengkapnya aku sarankan untuk membeli aja bukunya.
Buku ini diawali dengan pertemuan dua orang anak yaitu Digory Kirke dengan tetangganya, Polly Plummer. Dari percakapan tersebut terkuak bahwa ibu Digory sakit parah, sedangkan ayahnya pergi berperang ke India. Saat ini Digory tinggal bersama paman Andrew dan bibi Letty di London.
Paman Andrew termasuk orang yang aneh yang mengira dirinya adalah penyihir. Ia mengadakan percobaan yang katanya dapat mengirimkan seseorang ke dunia lain, selain dunia kita. Dengan sangat licik ia berhasil mengelabugi Polly untuk menggenakan sebuah cincin. Akibatnya Polly lenyap dari pandangan mata. Selanjutnya ia memaksa Digory untuk mengenakan cincin tersebut atau Polly tidak akan kembali lagi.
Digory pun menggunakan cincin tersebut dan sampailah ia ke sebuah hutan yang penuh dengan kolam. Ia bertemu dengan Polly, namun awalnya mereka tidak saling kenal. Setelah beberapa saat mengingat-ingat akhirnya mereka ingat siapa mereka dan kenapa mereka bisa sampai di sini. Hutan tersebut ternyata semacam tempat persinggahan antar dunia, sedangkan kolamnya adalah lorong yang menuju ke dunia lain. Sedangkan cincinnya adalah alat untuk menarik mereka kembali ke hutan dan kembali ke bumi.
Dari hutan tersebut mereka memulai petualangan. Dunia pertama yang mereka kunungi adalah Charn, sebuah kota mati. Di sebuah bangsal istana mereka menemukan sebuah lonceng dan palu di atas pilar. Ada tulisan di dekat lonceng tersebut, bila mereka memukulnya akan muncul suatu bahaya, bila tidak, mereka akan jadi gila. Polly memilih untuk kembali dan bersiap-siap menggunakan cincin dan kembali ke hutan. Tapi Digory terlanjur memukul bel tersebut yang kemudian membangunkan Jadis, ratu Charn, yang membuat Charn menjadi seperti sekarang.
Saat melarikan diri kembali ke hutan, jadis terserat ikut, namun disitu ia berubah menjadi wanita tua renta. Ia pun mengikuti mereka sampai ke kamar Paman Andrew, dan memperoleh kembali kekuatan dan kecantikannya, walau sihirnya telah hilang. Karena ingin menguasai bumi, Jadis lalu membuat keonaran di London. Digory dan Polly pun berusaha keras mengembalikan Jadis ke dunianya.
Saat kembali ke hutan ternyata mereka membawa serta Frank, kusir kereta; Strawberry, kudanya; dan Paman Andrew. Selanjutnya mereka masuk ke dunia asing yang belum berbentuk. Kemudian terdengarlah alunan merdu Sang Singa, dan seiring nyanyian tersebut muncullah rumput, pepohonan, dan binatang. Aslan sedang menciptakan Narnia!
Sedangkan Jadis, yang takut terhadap Aslan, melarikan diri ke wilayah Utara.
Aslan kemudian memampukan beberapa hewan untuk berbicara, termasuk Strawberry, dan menjelaskan bahwa kedatangan manusia membawa kejahatan ke dunia yang umurnya belum genap setengah hari tersebut. Digory merasa bersalah karena telah membawa Jadis ke Narnia, tapi ia juga berharap Aslan dapat memberinya obat untuk menyembuhkan ibunya. Aslanpun memberikan tugas kepada Digory untuk memperbaiki kesalahannya. Sedangkan Frank beserta istrinya yang didatangkan oleh Aslan di beri kepercayaan untuk menjadi raja pertama Narnia.
Dialog Cerdas
Ada begitu banyak pesan moral dan dialog menarik yang dapat dinikmati dari novel ini. Salah satunya ialah dialog antara Frank dengan Aslan, saat ia ditawari untuk menjadi raja Narnia. Keraguan Frank dalam sekejab diubah menjadi keyakinan melalui dialog yang singkat dan membangun. Berikut penggalan dialog tersebut:
Hal-hal menarik lainnya, sekali lagi aku sarankan beli aja bukunya.
Pada buku inilah, kamu dapat mengetahui bagaimana tiang lampu masuk ke Narnia, darimana asalnya Lemari sebagai tempat masuk Narnia, siapa Profesor Kirke, dan dari mana asalnya Jadis.
Sekelumit cerita
Tanpa bermaksud mengurangi selera keingintahuan mengenai isi buku ini, namun inilah penggalannya. Untuk versi lengkapnya aku sarankan untuk membeli aja bukunya.
Buku ini diawali dengan pertemuan dua orang anak yaitu Digory Kirke dengan tetangganya, Polly Plummer. Dari percakapan tersebut terkuak bahwa ibu Digory sakit parah, sedangkan ayahnya pergi berperang ke India. Saat ini Digory tinggal bersama paman Andrew dan bibi Letty di London.
Paman Andrew termasuk orang yang aneh yang mengira dirinya adalah penyihir. Ia mengadakan percobaan yang katanya dapat mengirimkan seseorang ke dunia lain, selain dunia kita. Dengan sangat licik ia berhasil mengelabugi Polly untuk menggenakan sebuah cincin. Akibatnya Polly lenyap dari pandangan mata. Selanjutnya ia memaksa Digory untuk mengenakan cincin tersebut atau Polly tidak akan kembali lagi.
Digory pun menggunakan cincin tersebut dan sampailah ia ke sebuah hutan yang penuh dengan kolam. Ia bertemu dengan Polly, namun awalnya mereka tidak saling kenal. Setelah beberapa saat mengingat-ingat akhirnya mereka ingat siapa mereka dan kenapa mereka bisa sampai di sini. Hutan tersebut ternyata semacam tempat persinggahan antar dunia, sedangkan kolamnya adalah lorong yang menuju ke dunia lain. Sedangkan cincinnya adalah alat untuk menarik mereka kembali ke hutan dan kembali ke bumi.
Dari hutan tersebut mereka memulai petualangan. Dunia pertama yang mereka kunungi adalah Charn, sebuah kota mati. Di sebuah bangsal istana mereka menemukan sebuah lonceng dan palu di atas pilar. Ada tulisan di dekat lonceng tersebut, bila mereka memukulnya akan muncul suatu bahaya, bila tidak, mereka akan jadi gila. Polly memilih untuk kembali dan bersiap-siap menggunakan cincin dan kembali ke hutan. Tapi Digory terlanjur memukul bel tersebut yang kemudian membangunkan Jadis, ratu Charn, yang membuat Charn menjadi seperti sekarang.
Saat melarikan diri kembali ke hutan, jadis terserat ikut, namun disitu ia berubah menjadi wanita tua renta. Ia pun mengikuti mereka sampai ke kamar Paman Andrew, dan memperoleh kembali kekuatan dan kecantikannya, walau sihirnya telah hilang. Karena ingin menguasai bumi, Jadis lalu membuat keonaran di London. Digory dan Polly pun berusaha keras mengembalikan Jadis ke dunianya.
Saat kembali ke hutan ternyata mereka membawa serta Frank, kusir kereta; Strawberry, kudanya; dan Paman Andrew. Selanjutnya mereka masuk ke dunia asing yang belum berbentuk. Kemudian terdengarlah alunan merdu Sang Singa, dan seiring nyanyian tersebut muncullah rumput, pepohonan, dan binatang. Aslan sedang menciptakan Narnia!
Sedangkan Jadis, yang takut terhadap Aslan, melarikan diri ke wilayah Utara.
Aslan kemudian memampukan beberapa hewan untuk berbicara, termasuk Strawberry, dan menjelaskan bahwa kedatangan manusia membawa kejahatan ke dunia yang umurnya belum genap setengah hari tersebut. Digory merasa bersalah karena telah membawa Jadis ke Narnia, tapi ia juga berharap Aslan dapat memberinya obat untuk menyembuhkan ibunya. Aslanpun memberikan tugas kepada Digory untuk memperbaiki kesalahannya. Sedangkan Frank beserta istrinya yang didatangkan oleh Aslan di beri kepercayaan untuk menjadi raja pertama Narnia.
Dialog Cerdas
Ada begitu banyak pesan moral dan dialog menarik yang dapat dinikmati dari novel ini. Salah satunya ialah dialog antara Frank dengan Aslan, saat ia ditawari untuk menjadi raja Narnia. Keraguan Frank dalam sekejab diubah menjadi keyakinan melalui dialog yang singkat dan membangun. Berikut penggalan dialog tersebut:
Dengan kesulitan, si kusir menelan ludah dua-tiga kali dan berdeham.
"Maaf, Sir," katanya, "bukannya saya tidak berterima kasih sekali kepada Anda (istri saya pun akan melakukan hal yang sama), tapi saya bukanlah orang yang cocok untuk pekerjaan seperti itu. Begini, saya tidak pernah dapat banyak pendidikan."
"Yah," kata Aslan, "bisakah kau menggunakan cangkul, bajak, dan memanen makanan dari bumi?"
"Ya, Sir, saya bisa melakukan pekerjaan semacam itu, karena dibesarkan untuk melakukannya."
"Bisakah kau memerintah makhluk-makhluk ini dengan lembut dan adil, mengingat bahwa mereka bukanlah budak seperti hewan-hewan bodoh di dunia tempat kau dilahirkan, tapi hewan-hewan yang bisa berbicara dan rakyat bebas?"
"Saya mengerti itu, Sir," jawab si kusir. "Saya akan berusaha memperlakukan mereka tanpa membeda-bedakan."
"Dan apakah kau akan membesarkan anak-anak juga cucu-cucumu untuk melakukan hal yang sama?"
"Saya pasti akan berusaha melakukan itu, Sir. Saya akan berusaha sebaik-baiknya: bukankah begitu, Nellie?"
"Dan kau tidak akan menjadikan salah satu anakmu sebagai favorit dibanding anak-anakmu yang lain atau dibanding makhluk-makhluk lain, atau membiarkan yang satu membawahi yang lain atau menggunakannya dengan tidak benar?"
"Saya tidak akan pernah bisa membiarkan hal seperti itu terjadi, Sir, dan itu kebenaran. Saya akan menghukum mereka bila aku mengetahui mereka melakukan itu," kata si kusir. (Sepanjang percakapan ini suaranya menjadi kian lambat dan kaya. Lebih seperti suara orang desa yang pasti dimilikinya saat dia masih kanak-kanak dan tidak seperti aksen kelas rendahan yang tajam dan cepat.)
"Dan jika para musuh datang menantang tanah ini (karena mereka akan datang) lalu ada perang, apakah kau akan jadi yang pertama maju bertempur dan terakhir mengundurkan diri?"
"Yah, Sir," kata si kusir sangat lambat, "seseorang tidak akan tahu pasti apa yang terjadi sebelum dia mencobanya. Yang bisa saya katakan adalah saya mungkin akan jadi pria lembek di saat seperti itu. Saya tidak pernah berkelahi kecuali dengan tinju saya. Tapi saya akan berusaha-setidaknya, saya harap saya akan berusaha-memenuhi bagian saya."
"Kalau begitu," kata Aslan, "kau akan melakukan segala tindakan yang harus dilakukan seorang raja..."
Hal-hal menarik lainnya, sekali lagi aku sarankan beli aja bukunya.
Sebuah Buku berjudul The Lion, The Witch And The Wardrobe
22:00
Karya pertama C.S. Lewis dari rangkaian The Chronicles of Narnia dengan seri pertamanya The Lion, The Witch And The Wardrobe. Konon Lewis tidak bermaksud membuat seri Narnia, jadi hanya pada buku The Lion, The Witch And The Wardrobe. Itulah alasannya kenapa urutan bukunya acak-acakan. Buku ini seharusnya menjadi buku kedua secara kronologis setelah The Magician�s Nephew
Lalu bagaimana sebenarnya kisah The Lion, The Witch And The Wardrobe? Berikut sedikit bocorannya
Kisah ini dimulai dengan pengungsian empat orang anak yaitu Peter, Edmund, Susan, dan Lucy ke rumah seorang profesor pada masa Perang Dunia II. Saat berada di rumah Sang Profesor secara tidak sengaja Lucy memasuki dunia Narnia ketika dia bersembunyi di sebuah lemari saat mengikuti permainan petak umpat bersama teman-temannya. Apa yang dilihat oleh Lucy selanjutnya diceritakan kepada teman-temannya. Namun sayang, tidak ada satupun yang percaya dengan cerita Lucy. Bahkan Edmund yang dikemudian hari juga ke Narnia tidak mau mengakuinya dihadapan yang lain. Namun, yang namanya kebenaran cepat atau lambat pasti diketahui oleh semua orang. Demikian juga dengan cerita Lucy.
Suatu hari, untuk menghindari pengurus rumah yang sedang mengantarkan tamu, mereka berempat memasuki Lemari Ajaib itu, dan bersama-sama sampai ke Narnia, menemukan bahwa cerita Lucy selama ini benar adanya. Dari keluarga Berang-berang yang mampu berbicara mereka akhirnya mengetahui apa yang sedang terjadi di Narnia. Bahwa seorang Penyihir Putih yang jahat telah membuat dunia Narnia mengalami musim salju yang berkepanjangan. Namun, keluarga Berang-berang tersebut yakin bahwa pemerintahan Ratu Penyihir tidak lama lagi akan berakhir karena Aslan, Sang Penguasa Narnia yang sebenarnya telah kembali ke Narnia.
Saat mereka sedang ngobrol, eh Edmund malah pergi dan menemui Penyihir Putih yang ia temui saat kunjungan pertamanya ke Narnia. Ia memiliki pandangan yang berbeda dengan yang lain mengenai Penyihir Putih. Ia justu merasa Penyihir Putih berpihak kepada kebenaran. Hal ini ia simpulkan setelah ia diberi roti oleh Penyihir dan dijanjikan jika Penyihir bisa menangkap manusia (teman-temannya) maka ia akan dijadikan Raja Narnia.
Menyadari bahaya yang akan menyerang maka keluarga Berang-berang dan ketiga anak tersebut segera melarikan diri menuju ke Stone Table, berharap bisa berjumpa dengan Aslan.
Sedangkan Edmund? Nasibnya tragis. Penyihir Putih sekarang telah berubah menjadi jahat dan membiarkan Edmund kedinginan saat menemani dia mencari keluarga Berang-berang. Bahkan ia memperlakukan Edmund selayaknya budak, jauh dari janjinya waktu pertama kali bertemu, bahwa ia akan menjadikan Edmund sebagai Raja Narnia.
Kembali ke pihak Aslan. Ah, tidak, sebaiknya kalian baca sendiri bukunya atau melihat langsung kehebatan filmnya. Tidak seru membeberkan semua kisah dalam tulisan ini. Lagi pula membeberkan semua ceritanya ntar kena sangsi pihak berwajib hehe
Lalu bagaimana sebenarnya kisah The Lion, The Witch And The Wardrobe? Berikut sedikit bocorannya
Kisah ini dimulai dengan pengungsian empat orang anak yaitu Peter, Edmund, Susan, dan Lucy ke rumah seorang profesor pada masa Perang Dunia II. Saat berada di rumah Sang Profesor secara tidak sengaja Lucy memasuki dunia Narnia ketika dia bersembunyi di sebuah lemari saat mengikuti permainan petak umpat bersama teman-temannya. Apa yang dilihat oleh Lucy selanjutnya diceritakan kepada teman-temannya. Namun sayang, tidak ada satupun yang percaya dengan cerita Lucy. Bahkan Edmund yang dikemudian hari juga ke Narnia tidak mau mengakuinya dihadapan yang lain. Namun, yang namanya kebenaran cepat atau lambat pasti diketahui oleh semua orang. Demikian juga dengan cerita Lucy.
Suatu hari, untuk menghindari pengurus rumah yang sedang mengantarkan tamu, mereka berempat memasuki Lemari Ajaib itu, dan bersama-sama sampai ke Narnia, menemukan bahwa cerita Lucy selama ini benar adanya. Dari keluarga Berang-berang yang mampu berbicara mereka akhirnya mengetahui apa yang sedang terjadi di Narnia. Bahwa seorang Penyihir Putih yang jahat telah membuat dunia Narnia mengalami musim salju yang berkepanjangan. Namun, keluarga Berang-berang tersebut yakin bahwa pemerintahan Ratu Penyihir tidak lama lagi akan berakhir karena Aslan, Sang Penguasa Narnia yang sebenarnya telah kembali ke Narnia.
Saat mereka sedang ngobrol, eh Edmund malah pergi dan menemui Penyihir Putih yang ia temui saat kunjungan pertamanya ke Narnia. Ia memiliki pandangan yang berbeda dengan yang lain mengenai Penyihir Putih. Ia justu merasa Penyihir Putih berpihak kepada kebenaran. Hal ini ia simpulkan setelah ia diberi roti oleh Penyihir dan dijanjikan jika Penyihir bisa menangkap manusia (teman-temannya) maka ia akan dijadikan Raja Narnia.
Menyadari bahaya yang akan menyerang maka keluarga Berang-berang dan ketiga anak tersebut segera melarikan diri menuju ke Stone Table, berharap bisa berjumpa dengan Aslan.
Sedangkan Edmund? Nasibnya tragis. Penyihir Putih sekarang telah berubah menjadi jahat dan membiarkan Edmund kedinginan saat menemani dia mencari keluarga Berang-berang. Bahkan ia memperlakukan Edmund selayaknya budak, jauh dari janjinya waktu pertama kali bertemu, bahwa ia akan menjadikan Edmund sebagai Raja Narnia.
Kembali ke pihak Aslan. Ah, tidak, sebaiknya kalian baca sendiri bukunya atau melihat langsung kehebatan filmnya. Tidak seru membeberkan semua kisah dalam tulisan ini. Lagi pula membeberkan semua ceritanya ntar kena sangsi pihak berwajib hehe
Narnia Memang Datar
19:54
- pandangan pribadi untuk film The Chronicles of Narnia, The Lion, the Witch and the Wardrobe
Mengintip Filmnya
Film The Chronicles of Narnia, The Lion, the Witch and the Wardrobe dimulai dengan secuil kisah Perang Dunia II yang memaksa keempat Pevensie bersaudara diungsikan ke rumah Profesor Kirke (Jim Broadbent). Keempat anak tersebut mulai dari yang tertua ialah Peter (William Moseley), Susan (Anna Popplewell), Edmund (Skandar Keynes), dan Lucy (Georgie Henley).
Ketika hari hujan, mereka bermain petak umpet, saat Peter hampir selesai menghitung (sampai 100 hitungan), Lucy yang terburu-buru mencari tempat persembunyian memasuki sebuah lemari. Setelah menyibakkan jubah-jubah yang tergantung di sana, Lucy mendapati dirinya tertusuk ranting pohon dan menginjak tanah bersalju, bukannya lantai lemari. Agak di kejauhan ia melihat sebuah tiang lampu dan kemudian bertemu dengan Pak Tumnus (James McAvoy), makhluk setengah manusia setengah kambing, yang menjelaskan bahwa kini ia berada di Narnia, negeri yang "selalu musim dingin tetapi tak pernah ada Natal" gara-gara ulah si Penyihir Putih, Jadis (Tilda Swinton).
Beberapa jam Lucy singgah di gua Pak Tumnus, namun anehnya, ketika ia kembali ke ruang kosong tadi, Peter baru saja selesai menghitung. Lucypun menceritakan pengalamannya yang tentu saja tidak mereka percayai.
Akhirnya, mereka berempat memasuki Lemari Ajaib itu dan bersama-sama sampai ke Narnia, menemukan bahwa cerita Lucy selama ini benar adanya. Sedihnya, mereka menemukan gua Pak Tumnus berantakan dan ada selebaran yang menjelaskan bahwa Pak Tumnus ditangkap oleh polisi si penyihir karena dianggap berkhianat dengan menolong Lucy.
Bertemulah mereka dengan Pak dan Bu Berang-berang (suara Ray Winstone dan Dawn French), yang menjelaskan apa yang tengah terjadi. Kedatangan mereka berempat, keturunan Adam dan Hawa, ternyata sudah diramalkan dalam sebuah syair kuno. Aslan (suara Liam Neeson), sang Singa penguasa tertinggi bumi Narnia, juga dikabarkan telah muncul kembali untuk menghadapi si penyihir.
Di tengah-tengah percakapan itu, Edmund diam-diam menyelinap ke luar, berniat menemui Penyihir Putih. Ketiga saudaranya, dengan pertolongan Pak dan Bu Berang-berang, pergi menemui Aslan, meminta pertolongan.
Edmund yang berharap akan kembali mendapat perlakuan baik dari Jadis justru diperlakukan secara buruk. Di dalam penjara istana Jadis, ia bertemu dengan Pak Tumnus yang kemudian ia lihat telah diubah menjadi batu oleh Jadis.
Mendengar Edmund ditawan, pasukan Aslan segara membebaskan Edmund dan membawanya kepada Aslan. Namun Jadis tidak dapat menerimanya. Ia menganggap bahwa Edmund seorang penghianat, dan semua penghianat adalah miliknya. Bila hal itu dilanggar maka dunia Narnia akan dijungkir balikkan. Hal ini menjadi dilema sebuah dilema. Bila Edmund diserahkan maka ramalan syair kuno mengenai empat anak manusia yang akan membebaskan Narnia tidak akan terjadi. Sebaliknya bila Edmund tidak diserahkan maka Narnia akan dijungkir balikkan.
Akhirnya setelah mengadakan perbicangan dengan Jadis disepakati bahwa Aslan akan menggantikan posisi Edmund. Hal ini tidak diketahui oleh siapapun termasuk oleh Susan dan Lucy yang mengikuti Aslan ketika ia menuju ke tempat Jadis. Di Stone Table, Aslan menyerahkan diri, ia diikat, digunduli surainya, lalu dibunuh oleh Jadis. Aslan, Sang Penguasa Narnia pun tewas seketika itu juga.
Kesan yang Didapat
Bagi Anda yang telah terbuai keindahan dan kemegahan film Trilogi The Lord of The Ring (LOTR) kemungkinan besar Anda akan jenuh melihat film ini. Dan itulah yang saya rasakan.
Keajaiban dunia Narnia yang membuat segala sesuatu mungkin terjadi tidak dapat dibeberkan dengan indah oleh Andrew Adamson, sebagai sutradara film ini. Yang terjadi justru pemaparan serba tanggung yang hanya sekali tampil, walau tujuannya untuk membuat penonton selalu terperangah saat melihat sesuatu yang baru. Peristiwa berakhirnya musim dingin dan berubahnya patung penghuni Narnia jauh dari kesan indah dan mempesona. Peperangan pun hanya bagus dengan banyaknya jumlah dan macam mahluk dimasing-masing pihak, tapi terlalu sebentar untuk ukuran pasukan sebanyak itu. Simak bagaimana angkatan udara Peter yang justru tidak dihadapi oleh Naga yang dimiliki Jadis. Raksasa pengikut Jadis pun hanya bisa 'bercanda' saat pertempuran. Tidak ada peristiwa heriok yang ditunjukkan masing tokoh kecuali Edmund yang bertanding melawan Jadis. Seharusnya perangnya bisa lebih dahsyat dari yang ini.
Untuk keperluan 'keindahan' film, beberapa adegan cerita telah diubah oleh Andrew. Walaupun secara umum perubahan tersebut tidak mengurangi nilai utama dari film ini namun sayangnya perubahannya bersifat tanggung dan ada kalanya ikut menghilangkan pesan-pesan yang terdapat di buku.
Dialog cerdas antara Profesor Kirke dengan Peter dan Susan diubah menjadi lebih sederhana tetapi maknanya justru tidak terlalu dalam. Latar belakang masukkan keempat anak ke Narnia pun juga diubah dengan alasan merasa dikejar Ny Macready karena mereka habis memecahkan kaca jendela. Suatu bentuk pelarian dari tanggungjawab! Kenyataannya, di buku, mereka masuk ke lemari karena memang enggan bertemu Ny Macready yang saat itu membawa turis berkeliling rumah profesor Kirke.
Sosok Aslan-pun juga tidaklah semegah yang dilukiskan sebelumnya. Awalnya saya sempat terkecoh, mengira Aslan akan muncul saat terompet dibunyikan ketika Pevensi bersaudara dan Berang-berang tiba di tempat Aslan. Sedangkan penonton dibelakang saya justru menganggap macan tutul yang berseliweran (terkesan menyelinap) diantara pasukan Aslan ialah Aslannya. Namun, semua rasa penasaran tersebut sontak runtuh bahkan berubah jadi senyum kecut saat melihat Aslan yang muncul dalam kesederhanaan. Jauh sekali dari kesan perkasa yang coba diciptakan sejak semula.
Dalam hal ini mungkin Andrew hendak menggambarkan sosok Aslan sebagai pemimpin yang tidak menakutkan tapi tetap agung. Hanya saja, kesan agung justru tidak nampak, selain badannya yang kadang membesar. Auman Aslan dalam beberapa kali kesempatan juga tidak mampu membuat penonton bergetar, setidaknya musuh ketakutan.
Yang paling fatal ialah proses pengorbanan Aslan menuju ke Stone Table digambarkan secara ringkas dan kurang begitu berkesan. Setelah bangkit dari kematian seharusnya Aslan bercanda dulu dengan Susan dan Lucy yang begitu terpukul dengan kematiannya, namun tidak di film. Ia terlalu terburu-buru untuk membebaskan penghuni Narnia dibandingkan bermain-main dengan anak kecil. Selain itu, proses pengubahan patung kembali ke ujud semula juga dilakukan dengan cepat. Tidak ada gegap gembita kegembiraan para mahluk Narnia. Kegembiraan singa yang satunya saat melihat Aslan, dan juga kemarahan Raksasa yang ingin membunuh Jadis hilang dari pandangan mata.
Pesan Moral
Untungnya pesan moral yang ditekankan oleh Lewis melalui cerita Narnia tidak terleliminasi secara telak di filmnya. Beberapa nilai moral yang harus dimiliki oleh anak-anak tetap ditonjolkan dalam film ini. Simak bagaimana Lucy mengajak berjabat tangan Pak Tumnus walau ia sendiri tidak tahu apa artinya. Dan simak pula pertolongan Lucy dengan memberikan sapu tangannya saat melihat Pak Tumnus menangis. Nasihat Aslan untuk tidak mempersoalkan yang sudah terjadi saat mempertemukan Edmund dan saudara-saudaranya juga patut kita acungi jempol.
Sosok Lucy yang tampil lugu dan polos memang menarik untuk disimak. Tidak terlalu berlebihan rasanya bila Lucy dianggap penggambaran anak ideal yang diimpikan oleh semua orang tua di dunia ini. Lihatlah bagaimana ia memeluk Edmund ketika bertemu di Narnia untuk pertama kalinya dan ia pula yang pertama kali berteriak memanggil Edmund lalu memeluknya begitu tahu Edmund sudah dibebaskan. Padahal sebelumnya Edmund sering melukai hatinya. Walaupun tidak ada kata maaf tetapi perbuatannya melebihi dari sekedar kata maaf.
Sayangnya sosok Peter dan Susan tidak digambarkan sesuai dengan bukunya. Lewis tidak pernah menceritakan keinginan mereka untuk kembali ke rumah walaupun bahaya menghadang di depan. Sebaliknya di film Susan digambarkan sebagai sosok gadis yang enggan menghadapi masalah sedangkan Peter sebagai orang yang selalu ragu-ragu walau mereka semua telah diramalkan akan menjadi Raja dan Ratu Narnia. Tapi OK-lah lupakan pergeseran peran dan tangkaplah makna bahwa sosok Peter dan Susan sering kita temui atau bahkan kita sendiri mengalaminya.
Sedangkan Edmund, walaupun berperan sebagai pengkhianat namun keberanian dan kecerdikannya saat berperang melawan Jadis patut diacungi jempol. Pada dasarnya Edmund-pun juga memiliki sifat belas kasihan. Simak bagaimana ia berusaha menolong Pak Tumnus dan serigala yang berpihak kepada Aslan.
Lalu Bagaimana?
Tentu saja segera tonton film tersebut bagi yang belum menonton. Hanya saja bagi Anda yang mengagumi film LOTR, singkirkan dulu kekaguman Anda sewaktu menyaksikan film Narnia. Pun jangan membayangkan kemegahan dan kedahsyatan Narnia saat menyaksikan film ini. Terlepas dari itu, banyaknya nilai-nilai moral yang ada difilm ini membuat film ini tetap layak untuk disimak oleh siapapun juga. Semoga film berikutnya bisa lebih baik lagi.
Mengintip Filmnya
Film The Chronicles of Narnia, The Lion, the Witch and the Wardrobe dimulai dengan secuil kisah Perang Dunia II yang memaksa keempat Pevensie bersaudara diungsikan ke rumah Profesor Kirke (Jim Broadbent). Keempat anak tersebut mulai dari yang tertua ialah Peter (William Moseley), Susan (Anna Popplewell), Edmund (Skandar Keynes), dan Lucy (Georgie Henley).
Ketika hari hujan, mereka bermain petak umpet, saat Peter hampir selesai menghitung (sampai 100 hitungan), Lucy yang terburu-buru mencari tempat persembunyian memasuki sebuah lemari. Setelah menyibakkan jubah-jubah yang tergantung di sana, Lucy mendapati dirinya tertusuk ranting pohon dan menginjak tanah bersalju, bukannya lantai lemari. Agak di kejauhan ia melihat sebuah tiang lampu dan kemudian bertemu dengan Pak Tumnus (James McAvoy), makhluk setengah manusia setengah kambing, yang menjelaskan bahwa kini ia berada di Narnia, negeri yang "selalu musim dingin tetapi tak pernah ada Natal" gara-gara ulah si Penyihir Putih, Jadis (Tilda Swinton).
Beberapa jam Lucy singgah di gua Pak Tumnus, namun anehnya, ketika ia kembali ke ruang kosong tadi, Peter baru saja selesai menghitung. Lucypun menceritakan pengalamannya yang tentu saja tidak mereka percayai.
Akhirnya, mereka berempat memasuki Lemari Ajaib itu dan bersama-sama sampai ke Narnia, menemukan bahwa cerita Lucy selama ini benar adanya. Sedihnya, mereka menemukan gua Pak Tumnus berantakan dan ada selebaran yang menjelaskan bahwa Pak Tumnus ditangkap oleh polisi si penyihir karena dianggap berkhianat dengan menolong Lucy.
Bertemulah mereka dengan Pak dan Bu Berang-berang (suara Ray Winstone dan Dawn French), yang menjelaskan apa yang tengah terjadi. Kedatangan mereka berempat, keturunan Adam dan Hawa, ternyata sudah diramalkan dalam sebuah syair kuno. Aslan (suara Liam Neeson), sang Singa penguasa tertinggi bumi Narnia, juga dikabarkan telah muncul kembali untuk menghadapi si penyihir.
Di tengah-tengah percakapan itu, Edmund diam-diam menyelinap ke luar, berniat menemui Penyihir Putih. Ketiga saudaranya, dengan pertolongan Pak dan Bu Berang-berang, pergi menemui Aslan, meminta pertolongan.
Edmund yang berharap akan kembali mendapat perlakuan baik dari Jadis justru diperlakukan secara buruk. Di dalam penjara istana Jadis, ia bertemu dengan Pak Tumnus yang kemudian ia lihat telah diubah menjadi batu oleh Jadis.
Mendengar Edmund ditawan, pasukan Aslan segara membebaskan Edmund dan membawanya kepada Aslan. Namun Jadis tidak dapat menerimanya. Ia menganggap bahwa Edmund seorang penghianat, dan semua penghianat adalah miliknya. Bila hal itu dilanggar maka dunia Narnia akan dijungkir balikkan. Hal ini menjadi dilema sebuah dilema. Bila Edmund diserahkan maka ramalan syair kuno mengenai empat anak manusia yang akan membebaskan Narnia tidak akan terjadi. Sebaliknya bila Edmund tidak diserahkan maka Narnia akan dijungkir balikkan.
Akhirnya setelah mengadakan perbicangan dengan Jadis disepakati bahwa Aslan akan menggantikan posisi Edmund. Hal ini tidak diketahui oleh siapapun termasuk oleh Susan dan Lucy yang mengikuti Aslan ketika ia menuju ke tempat Jadis. Di Stone Table, Aslan menyerahkan diri, ia diikat, digunduli surainya, lalu dibunuh oleh Jadis. Aslan, Sang Penguasa Narnia pun tewas seketika itu juga.
Kesan yang Didapat
Bagi Anda yang telah terbuai keindahan dan kemegahan film Trilogi The Lord of The Ring (LOTR) kemungkinan besar Anda akan jenuh melihat film ini. Dan itulah yang saya rasakan.
Keajaiban dunia Narnia yang membuat segala sesuatu mungkin terjadi tidak dapat dibeberkan dengan indah oleh Andrew Adamson, sebagai sutradara film ini. Yang terjadi justru pemaparan serba tanggung yang hanya sekali tampil, walau tujuannya untuk membuat penonton selalu terperangah saat melihat sesuatu yang baru. Peristiwa berakhirnya musim dingin dan berubahnya patung penghuni Narnia jauh dari kesan indah dan mempesona. Peperangan pun hanya bagus dengan banyaknya jumlah dan macam mahluk dimasing-masing pihak, tapi terlalu sebentar untuk ukuran pasukan sebanyak itu. Simak bagaimana angkatan udara Peter yang justru tidak dihadapi oleh Naga yang dimiliki Jadis. Raksasa pengikut Jadis pun hanya bisa 'bercanda' saat pertempuran. Tidak ada peristiwa heriok yang ditunjukkan masing tokoh kecuali Edmund yang bertanding melawan Jadis. Seharusnya perangnya bisa lebih dahsyat dari yang ini.
Untuk keperluan 'keindahan' film, beberapa adegan cerita telah diubah oleh Andrew. Walaupun secara umum perubahan tersebut tidak mengurangi nilai utama dari film ini namun sayangnya perubahannya bersifat tanggung dan ada kalanya ikut menghilangkan pesan-pesan yang terdapat di buku.
Dialog cerdas antara Profesor Kirke dengan Peter dan Susan diubah menjadi lebih sederhana tetapi maknanya justru tidak terlalu dalam. Latar belakang masukkan keempat anak ke Narnia pun juga diubah dengan alasan merasa dikejar Ny Macready karena mereka habis memecahkan kaca jendela. Suatu bentuk pelarian dari tanggungjawab! Kenyataannya, di buku, mereka masuk ke lemari karena memang enggan bertemu Ny Macready yang saat itu membawa turis berkeliling rumah profesor Kirke.
Sosok Aslan-pun juga tidaklah semegah yang dilukiskan sebelumnya. Awalnya saya sempat terkecoh, mengira Aslan akan muncul saat terompet dibunyikan ketika Pevensi bersaudara dan Berang-berang tiba di tempat Aslan. Sedangkan penonton dibelakang saya justru menganggap macan tutul yang berseliweran (terkesan menyelinap) diantara pasukan Aslan ialah Aslannya. Namun, semua rasa penasaran tersebut sontak runtuh bahkan berubah jadi senyum kecut saat melihat Aslan yang muncul dalam kesederhanaan. Jauh sekali dari kesan perkasa yang coba diciptakan sejak semula.
Dalam hal ini mungkin Andrew hendak menggambarkan sosok Aslan sebagai pemimpin yang tidak menakutkan tapi tetap agung. Hanya saja, kesan agung justru tidak nampak, selain badannya yang kadang membesar. Auman Aslan dalam beberapa kali kesempatan juga tidak mampu membuat penonton bergetar, setidaknya musuh ketakutan.
Yang paling fatal ialah proses pengorbanan Aslan menuju ke Stone Table digambarkan secara ringkas dan kurang begitu berkesan. Setelah bangkit dari kematian seharusnya Aslan bercanda dulu dengan Susan dan Lucy yang begitu terpukul dengan kematiannya, namun tidak di film. Ia terlalu terburu-buru untuk membebaskan penghuni Narnia dibandingkan bermain-main dengan anak kecil. Selain itu, proses pengubahan patung kembali ke ujud semula juga dilakukan dengan cepat. Tidak ada gegap gembita kegembiraan para mahluk Narnia. Kegembiraan singa yang satunya saat melihat Aslan, dan juga kemarahan Raksasa yang ingin membunuh Jadis hilang dari pandangan mata.
Pesan Moral
Untungnya pesan moral yang ditekankan oleh Lewis melalui cerita Narnia tidak terleliminasi secara telak di filmnya. Beberapa nilai moral yang harus dimiliki oleh anak-anak tetap ditonjolkan dalam film ini. Simak bagaimana Lucy mengajak berjabat tangan Pak Tumnus walau ia sendiri tidak tahu apa artinya. Dan simak pula pertolongan Lucy dengan memberikan sapu tangannya saat melihat Pak Tumnus menangis. Nasihat Aslan untuk tidak mempersoalkan yang sudah terjadi saat mempertemukan Edmund dan saudara-saudaranya juga patut kita acungi jempol.
Sosok Lucy yang tampil lugu dan polos memang menarik untuk disimak. Tidak terlalu berlebihan rasanya bila Lucy dianggap penggambaran anak ideal yang diimpikan oleh semua orang tua di dunia ini. Lihatlah bagaimana ia memeluk Edmund ketika bertemu di Narnia untuk pertama kalinya dan ia pula yang pertama kali berteriak memanggil Edmund lalu memeluknya begitu tahu Edmund sudah dibebaskan. Padahal sebelumnya Edmund sering melukai hatinya. Walaupun tidak ada kata maaf tetapi perbuatannya melebihi dari sekedar kata maaf.
Sayangnya sosok Peter dan Susan tidak digambarkan sesuai dengan bukunya. Lewis tidak pernah menceritakan keinginan mereka untuk kembali ke rumah walaupun bahaya menghadang di depan. Sebaliknya di film Susan digambarkan sebagai sosok gadis yang enggan menghadapi masalah sedangkan Peter sebagai orang yang selalu ragu-ragu walau mereka semua telah diramalkan akan menjadi Raja dan Ratu Narnia. Tapi OK-lah lupakan pergeseran peran dan tangkaplah makna bahwa sosok Peter dan Susan sering kita temui atau bahkan kita sendiri mengalaminya.
Sedangkan Edmund, walaupun berperan sebagai pengkhianat namun keberanian dan kecerdikannya saat berperang melawan Jadis patut diacungi jempol. Pada dasarnya Edmund-pun juga memiliki sifat belas kasihan. Simak bagaimana ia berusaha menolong Pak Tumnus dan serigala yang berpihak kepada Aslan.
Lalu Bagaimana?
Tentu saja segera tonton film tersebut bagi yang belum menonton. Hanya saja bagi Anda yang mengagumi film LOTR, singkirkan dulu kekaguman Anda sewaktu menyaksikan film Narnia. Pun jangan membayangkan kemegahan dan kedahsyatan Narnia saat menyaksikan film ini. Terlepas dari itu, banyaknya nilai-nilai moral yang ada difilm ini membuat film ini tetap layak untuk disimak oleh siapapun juga. Semoga film berikutnya bisa lebih baik lagi.
Friday, 30 March 2007
Juli di bulan Juni: Hargai Hidupmu
02:22
Apa jadinya bila Anda atau orang yang Anda sayangi dicap menderita penyakit Dialeksia; sebuah penyakit yang menyebabkan seseorang tidak merangkai huruf menjadi kalimat. Dialeksia memang bukan penyakit mematikan seperti Tumor atau Kanker tetapi Dialeksia dapat 'membunuh' semangat hidup si penderita. Bagaimana seseorang dapat berkarir dengan baik jika dia tidak mampu membaca atau menulis dengan benar.
Masalah inilah yang menjadi inti sinetron lepas Juni di bulan Juli buah karya Guntur Soehardjanto.
Juli di Bulan Juni mengisahkan seorang gadis yang bernama Juli (Sissy Priscilla) seorang penderita Dialeksia. Karena penyakitnya tersebut ia tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikannya dan hanya bisa ikut membantu ayahnya menjalankan usaha pencucian mobil.
Sebagai penderita Dialeksia Juli sering kali minder dan mencap dirinya sendiri bodoh. Ia pun mematok bulan Juni adalah bulan paling sial dalam hidupnya dan sangat ketakutan bila bulan akan menuju Juni. Hal terjadi karena banyak peristiwa memilukan yang ia alami terjadi di bulan Juni. Ibunya meninggal di bulan Juni dan ia di-DO dari SD di bulan yang sama.
Sebagai seorang wanita Juli juga memiliki perasaan cinta, dan perasaannya tersebut (awalnya hanyalah kagum) ia tujukan ke Tora (Tora Sudiro) seorang presenter kuis acara TV. Namun, sang pujuan hati ternyata sudah bertunangan pada waktu Juli telah merasa cocok dengan Tora.
Selain ditinggal oleh Tora, Juli juga ditinggal oleh sahabat baiknya yang tanpa ia sadari justru mencintai dia yaitu Jarwo (Ariyo Wahab). Pada saat yang sama usaha bengkel ayahnya pun terpaksa harus gulung tikar. Dan semuanya ini terjadi di bulan Juni.
Namun di balik kekurangannya itu, akhirnya ia mampu membalikkan 'kondisi' dirinya menjadi seseorang yang berguna berkat hasil jepretan kameranya.
Melalui sinetron ini, kita diajak untuk lebih menghargai hidup dan tidak memandang kondisi fisik atau lingkungan sebagai halangan untuk maju. Sebab "Yang penting, tiap
pagi kala bangun, di antara tarik nafas dan buang nafas, yakinkan diri bahwa
kita pantas hidup". Hal inilah yang Jarwo tekankan sesaat sebelum meninggalkan Juli.
Masalah inilah yang menjadi inti sinetron lepas Juni di bulan Juli buah karya Guntur Soehardjanto.
Juli di Bulan Juni mengisahkan seorang gadis yang bernama Juli (Sissy Priscilla) seorang penderita Dialeksia. Karena penyakitnya tersebut ia tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikannya dan hanya bisa ikut membantu ayahnya menjalankan usaha pencucian mobil.
Sebagai penderita Dialeksia Juli sering kali minder dan mencap dirinya sendiri bodoh. Ia pun mematok bulan Juni adalah bulan paling sial dalam hidupnya dan sangat ketakutan bila bulan akan menuju Juni. Hal terjadi karena banyak peristiwa memilukan yang ia alami terjadi di bulan Juni. Ibunya meninggal di bulan Juni dan ia di-DO dari SD di bulan yang sama.
Sebagai seorang wanita Juli juga memiliki perasaan cinta, dan perasaannya tersebut (awalnya hanyalah kagum) ia tujukan ke Tora (Tora Sudiro) seorang presenter kuis acara TV. Namun, sang pujuan hati ternyata sudah bertunangan pada waktu Juli telah merasa cocok dengan Tora.
Selain ditinggal oleh Tora, Juli juga ditinggal oleh sahabat baiknya yang tanpa ia sadari justru mencintai dia yaitu Jarwo (Ariyo Wahab). Pada saat yang sama usaha bengkel ayahnya pun terpaksa harus gulung tikar. Dan semuanya ini terjadi di bulan Juni.
Namun di balik kekurangannya itu, akhirnya ia mampu membalikkan 'kondisi' dirinya menjadi seseorang yang berguna berkat hasil jepretan kameranya.
Melalui sinetron ini, kita diajak untuk lebih menghargai hidup dan tidak memandang kondisi fisik atau lingkungan sebagai halangan untuk maju. Sebab "Yang penting, tiap
pagi kala bangun, di antara tarik nafas dan buang nafas, yakinkan diri bahwa
kita pantas hidup". Hal inilah yang Jarwo tekankan sesaat sebelum meninggalkan Juli.
Monday, 19 March 2007
Siemensku Sayang
23:48
Awalnya aku bukanlah seorang Siemens Mania. Bagaimana mau menjadi Siemens Mania lha wong yang namanya ponsel alias ponsel saja aku awam alias gak tahu sama sekali. Jangankan membedakan mana ponsel yang bagus dan tidak, mengoperasikan ponsel saja aku tidak bisa :)
C35i - Ponsel Pertama (2002 - 2006)
Alasan utama aku pengen beli ponsel waktu itu karena jaringan telepon dirumahku yang baru (baru pindahan) belum tersedia. Nah, karena ibuku butuh komunikasi dengan relasi ya udah aku belaain beli ponsel. Kebetulan waktu itu sahabatku baru saja beli Siemens C35i nah aku ngikut aja beli C35i biar dia bisa ngajari aku cara menggunakan ponsel. Inilah alasannya kenapa aku memilih ponsel ini.
Senang sekali rasanya dapat ponsel ini, disamping bentuknya yang mungil dan terkesan seksi (untuk ukuran waktu itu), ringtonenya keras, fiturnya juga bikin aku puas as as... Selain SMS dan telepon, fasilitas lain yang sering kupakai yaitu reminder dan games. Walaupun gamenya sederhana, tapi aku seneng banget mainin game yang ada yaitu: Wayout, Reversi, Quattropoli, dan Minesweeper. Dikemudian hari aku baru tahu kalau game Siemens kebanyakan emang menuntut kita untuk berpikir, tidak sekadar have fun aja.
Sayangnya ponsel ini akhirnya tewas tidak dengan gagahnya. Kenapa? Karena tewasnya setelah aku coba ganti casing. Lho kok bisa?! Aku sendiri tidak tahu kenapa. Waktu aku buka casing dan ganti dengan casing yang baru tiba-tiba C35i-ku bergetar dan langsung kucabut batunya. Waktu kunyalakan lagi sudah tidak bisa. Kubawa ke resparasi ponsel katanya harus ganti prosesornya. Dan katanya beli baru sama beli prosesor baru harganya sama hehe.
Padahal dulu kebanting beberapa kali tetap aja C35i-ku masih bisa dipakai. Pernah juga sih kebanting terus antenanya kena. Tapi diperbaiki sedikit dah bisa lagi. Aku masih berharap C35i-ku tidak benar-benar tewas tapi cuma mati suri. Alias tidak perlu ganti prosesor. Bagaimanapun juga ini ponsel pertamaku yang tentu saja tidak ingin aku jual.
MC60 - Ponsel Selingan (2005)
Aku beli ponsel ini ketika C35i-ku sedang masuk rumah sakit akibat antenanya kena. Jujur aja aku tertarik dengan ponsel ini karena bentuknya yang lucu dan ada kameranya. Ponsel pertama Siemens di kelas 55 yang ada fasilitas kameranya. Tapi sayangnya suara ringtonenya kecilnya minta ampun... Setelah browsing di-internet secara umum MC60 memang kurang bagus. Dan itulah yang kurasakan. Tidak sampai 3 minggu ponsel ini kujual lagi untuk tukar tambah dengan SL45.
Walaupun begitu MC60 telah mengenalkanku pada dunia GPRS. Jadi ingat waktu main GPRS sambil nungguin resparasi motor di bengkel hehe.
SL45 - Ponsel Idaman (2005 - sekarang)
Aku sudah ngebet pengen ponsel ini sejak tahun 2003 setelah lihat iklannya di koran. Pemicunya apalagi kalau bukan kemampuannya memainkan MP3. Tapi berhubung belum ada dana jadi ya terpaksa keinginan ditunda dulu.
Nah beberapa hari setelah pembelian MC60 aku liat dikoran ada iklan baris yang menjual SL45 di Yogya dan harganya bisa diraih. Baru aku sadar bukankah dulu aku naksir berat dengan ponsel ini, tapi kenapa bisa lupa dan malah beli MC60 ya?
Akhirnya dengan semangat 45 aku pergi ke Yogya untuk beli SL45, sekalian jual MC60nya. Dan dapat SL45 komplit, bekas garansi DGE. Waktu itu aku nanya ke penjualnya, bisa gak kalau diupgrade sendiri jadi SL45i, yang ada fasilitas Javanya. Dan penjualnya bilang bilang bisa.
Selanjutnya akupun mulai nyari informasi cara upgrade SL45 menjadi SL45i di internet. Dalam pencarian tersebut aku menemukan informasi tentang patch dan tentu saja SiemensXP sebuah forum diskusi tentang Siemens di Indonesia. Bukan berhenti sampai disitu aja. Akupun juga sempat otak-atik handsfree sehingga bisa diganti headsetnya. Maklum headset asli akhirnya tewas ditanganku hehe.
SX1 - Terburu-buru (2006 - 2007)
Idaman berikutnya setelah SL45 ialah SX1 tapi yang Black Carbon. Nah setelah uangnya cukup akhirnya berangkat ke Yogya untuk beli ponsel ini. Ada beberapa counter yang menyediakan SX1. Sebenarnya aku masih pengen nyari yang lain tapi karena tubuhku waktu itu sedang tidak fit akhirnya kuputuskan untuk langsung membelinya tanpa berpikir panjang terlebih dulu.
Di kemudian hari aku baru kecewa kenapa aku terburu-buru membeli ponsel ini kenapa tidak menunggu sambil mencari SX1 yang Black Carbon. Apalagi SX1-ku juga sering rusak. Mulai dari casing patah dan retak, handsfree rusak, joystick rusak, sampai mesin matot. Memang sih kuakui sebagian kerusakan disebabkan oleh tindakanku.
Mesin matot karena tidak hati-hati saat pacthing, joystick rusak karena sering dipakai untuk nge-gim, dan handsfree rusak karena sering dibawa tidur hehe. Sedangkan yang aku curigai menyebabkan casing patah dan retak ialah tukang service di counter ponsel hehe.
Pernah sih kepikiran untuk menjual SX1-ku, tapi kalau aku jual di counter harganya pasti turun drastis. Saat ini aku cuma berharap bisa dapat casing komplit yang Black Carbon untuk ngantiin casing yang sekarang.
Dibalik kerusakan itu, aku sendiri termasuk pemuja SX1. Selain fasilitas musik yang suaranya aduhai (kalau pakai handsfree), fasilitas bisnispun juga tidak kalah TOP.
Ponsel ini udah kujual ke temanku, lagi hunting mo nyari pengantinya nih
M55 - Gantiin S55 (2005 - sekarang)
Sewaktu SX1-ku rusak, aku kepikiran nyari S55 untuk kupakai sebagai ponsel cadangan. Waktu itu, C35i sudah tewas, terus SL45 dipakai Mami. Tapi sayangnya selama hunting aku tidak pernah menemukan yang rela S55. Maklum S55 memang tidak masuk ke Indonesia, jadi cuma mengandalkan BM. Ada juga sih yang tulisannya S55 tapi kalau tidak cuma casing (S57 casingnya S55), bluetoothnya gak bisa dipakai.
Nah, karena udah keburu pengen beli akhirnya milih M55. Dapat di Solo yang warna grey. Keren juga sih walau fasilitas dah ketinggalan jauh. Dan karena ponsel ini ada bukan berawal dari mimpi jadi ya perasaannya beda dengan saat memiliki SL45 dan SX1. Tidak menutup kemungkinan ponsel ini bakal di lego kalo pas butuh uang hehe.
Saat ini, M55 dipakai Mami dan belum pernah kena virus patch. Bagaimana mau patch bikin fubu aja belum bisa hehe.
Itulah sekelimut kisahku tentang ponsel yang kumiliki. Sayangnya Siemens Divisi Mobiles saat ini sudah KO. Akuisi oleh pihak BenQ ternyata tidak membuat Siemens kembali jaya tetapi justru semakin terpuruk. Namun, bagaimanapun juga aku masih tetap berminat mengkoleksi Siemens edisi luar biasa (setidaknya menurutku).
Aku masih bermimpi koleksi salah satu atau semuanya dari ME45, M65, SK65, ME75, M75, S75, dan SXG75.
C35i - Ponsel Pertama (2002 - 2006)
Alasan utama aku pengen beli ponsel waktu itu karena jaringan telepon dirumahku yang baru (baru pindahan) belum tersedia. Nah, karena ibuku butuh komunikasi dengan relasi ya udah aku belaain beli ponsel. Kebetulan waktu itu sahabatku baru saja beli Siemens C35i nah aku ngikut aja beli C35i biar dia bisa ngajari aku cara menggunakan ponsel. Inilah alasannya kenapa aku memilih ponsel ini.
Senang sekali rasanya dapat ponsel ini, disamping bentuknya yang mungil dan terkesan seksi (untuk ukuran waktu itu), ringtonenya keras, fiturnya juga bikin aku puas as as... Selain SMS dan telepon, fasilitas lain yang sering kupakai yaitu reminder dan games. Walaupun gamenya sederhana, tapi aku seneng banget mainin game yang ada yaitu: Wayout, Reversi, Quattropoli, dan Minesweeper. Dikemudian hari aku baru tahu kalau game Siemens kebanyakan emang menuntut kita untuk berpikir, tidak sekadar have fun aja.
Sayangnya ponsel ini akhirnya tewas tidak dengan gagahnya. Kenapa? Karena tewasnya setelah aku coba ganti casing. Lho kok bisa?! Aku sendiri tidak tahu kenapa. Waktu aku buka casing dan ganti dengan casing yang baru tiba-tiba C35i-ku bergetar dan langsung kucabut batunya. Waktu kunyalakan lagi sudah tidak bisa. Kubawa ke resparasi ponsel katanya harus ganti prosesornya. Dan katanya beli baru sama beli prosesor baru harganya sama hehe.
Padahal dulu kebanting beberapa kali tetap aja C35i-ku masih bisa dipakai. Pernah juga sih kebanting terus antenanya kena. Tapi diperbaiki sedikit dah bisa lagi. Aku masih berharap C35i-ku tidak benar-benar tewas tapi cuma mati suri. Alias tidak perlu ganti prosesor. Bagaimanapun juga ini ponsel pertamaku yang tentu saja tidak ingin aku jual.
MC60 - Ponsel Selingan (2005)
Aku beli ponsel ini ketika C35i-ku sedang masuk rumah sakit akibat antenanya kena. Jujur aja aku tertarik dengan ponsel ini karena bentuknya yang lucu dan ada kameranya. Ponsel pertama Siemens di kelas 55 yang ada fasilitas kameranya. Tapi sayangnya suara ringtonenya kecilnya minta ampun... Setelah browsing di-internet secara umum MC60 memang kurang bagus. Dan itulah yang kurasakan. Tidak sampai 3 minggu ponsel ini kujual lagi untuk tukar tambah dengan SL45.
Walaupun begitu MC60 telah mengenalkanku pada dunia GPRS. Jadi ingat waktu main GPRS sambil nungguin resparasi motor di bengkel hehe.
SL45 - Ponsel Idaman (2005 - sekarang)
Aku sudah ngebet pengen ponsel ini sejak tahun 2003 setelah lihat iklannya di koran. Pemicunya apalagi kalau bukan kemampuannya memainkan MP3. Tapi berhubung belum ada dana jadi ya terpaksa keinginan ditunda dulu.
Nah beberapa hari setelah pembelian MC60 aku liat dikoran ada iklan baris yang menjual SL45 di Yogya dan harganya bisa diraih. Baru aku sadar bukankah dulu aku naksir berat dengan ponsel ini, tapi kenapa bisa lupa dan malah beli MC60 ya?
Akhirnya dengan semangat 45 aku pergi ke Yogya untuk beli SL45, sekalian jual MC60nya. Dan dapat SL45 komplit, bekas garansi DGE. Waktu itu aku nanya ke penjualnya, bisa gak kalau diupgrade sendiri jadi SL45i, yang ada fasilitas Javanya. Dan penjualnya bilang bilang bisa.
Selanjutnya akupun mulai nyari informasi cara upgrade SL45 menjadi SL45i di internet. Dalam pencarian tersebut aku menemukan informasi tentang patch dan tentu saja SiemensXP sebuah forum diskusi tentang Siemens di Indonesia. Bukan berhenti sampai disitu aja. Akupun juga sempat otak-atik handsfree sehingga bisa diganti headsetnya. Maklum headset asli akhirnya tewas ditanganku hehe.
SX1 - Terburu-buru (2006 - 2007)
Idaman berikutnya setelah SL45 ialah SX1 tapi yang Black Carbon. Nah setelah uangnya cukup akhirnya berangkat ke Yogya untuk beli ponsel ini. Ada beberapa counter yang menyediakan SX1. Sebenarnya aku masih pengen nyari yang lain tapi karena tubuhku waktu itu sedang tidak fit akhirnya kuputuskan untuk langsung membelinya tanpa berpikir panjang terlebih dulu.
Di kemudian hari aku baru kecewa kenapa aku terburu-buru membeli ponsel ini kenapa tidak menunggu sambil mencari SX1 yang Black Carbon. Apalagi SX1-ku juga sering rusak. Mulai dari casing patah dan retak, handsfree rusak, joystick rusak, sampai mesin matot. Memang sih kuakui sebagian kerusakan disebabkan oleh tindakanku.
Mesin matot karena tidak hati-hati saat pacthing, joystick rusak karena sering dipakai untuk nge-gim, dan handsfree rusak karena sering dibawa tidur hehe. Sedangkan yang aku curigai menyebabkan casing patah dan retak ialah tukang service di counter ponsel hehe.
Pernah sih kepikiran untuk menjual SX1-ku, tapi kalau aku jual di counter harganya pasti turun drastis. Saat ini aku cuma berharap bisa dapat casing komplit yang Black Carbon untuk ngantiin casing yang sekarang.
Dibalik kerusakan itu, aku sendiri termasuk pemuja SX1. Selain fasilitas musik yang suaranya aduhai (kalau pakai handsfree), fasilitas bisnispun juga tidak kalah TOP.
Ponsel ini udah kujual ke temanku, lagi hunting mo nyari pengantinya nih
M55 - Gantiin S55 (2005 - sekarang)
Sewaktu SX1-ku rusak, aku kepikiran nyari S55 untuk kupakai sebagai ponsel cadangan. Waktu itu, C35i sudah tewas, terus SL45 dipakai Mami. Tapi sayangnya selama hunting aku tidak pernah menemukan yang rela S55. Maklum S55 memang tidak masuk ke Indonesia, jadi cuma mengandalkan BM. Ada juga sih yang tulisannya S55 tapi kalau tidak cuma casing (S57 casingnya S55), bluetoothnya gak bisa dipakai.
Nah, karena udah keburu pengen beli akhirnya milih M55. Dapat di Solo yang warna grey. Keren juga sih walau fasilitas dah ketinggalan jauh. Dan karena ponsel ini ada bukan berawal dari mimpi jadi ya perasaannya beda dengan saat memiliki SL45 dan SX1. Tidak menutup kemungkinan ponsel ini bakal di lego kalo pas butuh uang hehe.
Saat ini, M55 dipakai Mami dan belum pernah kena virus patch. Bagaimana mau patch bikin fubu aja belum bisa hehe.
Itulah sekelimut kisahku tentang ponsel yang kumiliki. Sayangnya Siemens Divisi Mobiles saat ini sudah KO. Akuisi oleh pihak BenQ ternyata tidak membuat Siemens kembali jaya tetapi justru semakin terpuruk. Namun, bagaimanapun juga aku masih tetap berminat mengkoleksi Siemens edisi luar biasa (setidaknya menurutku).
Aku masih bermimpi koleksi salah satu atau semuanya dari ME45, M65, SK65, ME75, M75, S75, dan SXG75.
Tuesday, 13 March 2007
Meluangkan Waktu
20:54
Salah satu kebiasaan baru yang diterapkan oleh kantorku setiap pagi ialah mengawali pekerjaan dengan doa; dulu biasanya hal itu hanya dilakukan setiap hari Senin. Acaranya seperti persekutuan doa biasanya. Nyanyi, doa, dan sharing. Kadang cuma nyanyi dan doa, soalnya tidak ada ada yang sharing. Ada kalanya pas sharing dijadikan waktu bercanda untuk ngerjain teman hehe. Tapi tidak jarang juga pas sharing semua diam dan hanya saling melihat satu dengan yang lain.
Dalam suatu kesempatan bosku pernah bilang kalau dia sebenarnya merasa 'sulit' membiarkan pegawainya mengadakan persekutuan doa setiap hari. Adanya acara ini tentu saja akan mengurangi jam kerja. Tetapi kemudian dia mengatakan bahwa mengawali hari dengan memuji Tuhan justru lebih baik dibandingkan langsung kerja. Sekalipun secara manusia ada waktu yang 'terbuang' tapi ia yakin pasti lebih banyak berkat yang akan didapat.
Aku termasuk salah satu karyawan yang merasakan adanya berkat itu. Memang sih melulu berimbas ke soal kerjaan yang tiba-tiba menjadi mudah. Sharing, doa, dan pujian lebih sering memberikan 'kesegaran' bagiku untuk memulai pekerjaan di kantor.
Selain itu, acara tersebut juga membuat kami semakin akrab satu dengan yang lain. Teman-teman pun juga lebih berani berbagi cerita atau menyatakan pendapatnya atas suatu masalah tertentu. Imbasnya tentu saja sharing mereka semakin menguatkan imanku kepada Tuhan. Tidak jarang ada pengetahuan baru yang kudapat dari sharing mereka.
Pada awal persekutuan ini dimulai setiap hari, bosku pernah bilang kalau persekutuan dimulai pukul 8.10 (kantor mulai buka pukul 8.00) dan selesai pukul 8.45. Tetapi ia melanjutkan kalau semuanya mengikuti kehendak Tuhan.
Dan dalam prakteknya ia memang belum pernah mengingatkan karyawannya ketika acara persekutuan melebihi tenggat waktu yang ditentukan. Ia justru nampak senang bila melihat karyawannya sedang asyik sharing, sekalipun waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 lebih. Bahkan ada kalanya ia ikut memimpin doa. Padahal kalau dia mimpin doa pasti luama hehe. Namun demikian teman-teman juga sadar. Bila tidak ada yang sharing atau hanya diam-diam saja, acarapun segera diakhiri walaupun tenggat selesainya masih lama.
Bagiku kunci keberhasilan persekutuan doa ini terletak pada kerelaan meluangkan waktu dengan sungguh-sungguh. Aku tahu bahwa setiap orang sibuk dan mungkin ada yang sedang dikejar deadline, tapi kami rela meluangkan waktu untuk berdoa, tanpa berpikir soal waktu. Kalau kami masih berpikir berapa lama persekutuan ini berlangsung atau terus-menerus mengingatkan kapan persekutuan ini harus selesai sama halnya kami belum rela meluangkan waktu untuk berdoa. Bagaimana Tuhan rela memberkati kami kalau kami sendiri tidak rela meluangkan waktu khusus bersama dengan Tuhan.
Tanpa bermaksud menggurui saya ingin mengingatkan teman-teman yang terbiasa memulai hari dengan persekutuan doa baik di rumah atau di kantor, lakukannya dengan kerelaan hati dan jangan kuatir soal waktu dan pekerjaan. Tuhan akan peduli dengan kita jika kita benar-benar peduli dengan Tuhan
Dalam suatu kesempatan bosku pernah bilang kalau dia sebenarnya merasa 'sulit' membiarkan pegawainya mengadakan persekutuan doa setiap hari. Adanya acara ini tentu saja akan mengurangi jam kerja. Tetapi kemudian dia mengatakan bahwa mengawali hari dengan memuji Tuhan justru lebih baik dibandingkan langsung kerja. Sekalipun secara manusia ada waktu yang 'terbuang' tapi ia yakin pasti lebih banyak berkat yang akan didapat.
Aku termasuk salah satu karyawan yang merasakan adanya berkat itu. Memang sih melulu berimbas ke soal kerjaan yang tiba-tiba menjadi mudah. Sharing, doa, dan pujian lebih sering memberikan 'kesegaran' bagiku untuk memulai pekerjaan di kantor.
Selain itu, acara tersebut juga membuat kami semakin akrab satu dengan yang lain. Teman-teman pun juga lebih berani berbagi cerita atau menyatakan pendapatnya atas suatu masalah tertentu. Imbasnya tentu saja sharing mereka semakin menguatkan imanku kepada Tuhan. Tidak jarang ada pengetahuan baru yang kudapat dari sharing mereka.
Pada awal persekutuan ini dimulai setiap hari, bosku pernah bilang kalau persekutuan dimulai pukul 8.10 (kantor mulai buka pukul 8.00) dan selesai pukul 8.45. Tetapi ia melanjutkan kalau semuanya mengikuti kehendak Tuhan.
Dan dalam prakteknya ia memang belum pernah mengingatkan karyawannya ketika acara persekutuan melebihi tenggat waktu yang ditentukan. Ia justru nampak senang bila melihat karyawannya sedang asyik sharing, sekalipun waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 lebih. Bahkan ada kalanya ia ikut memimpin doa. Padahal kalau dia mimpin doa pasti luama hehe. Namun demikian teman-teman juga sadar. Bila tidak ada yang sharing atau hanya diam-diam saja, acarapun segera diakhiri walaupun tenggat selesainya masih lama.
Bagiku kunci keberhasilan persekutuan doa ini terletak pada kerelaan meluangkan waktu dengan sungguh-sungguh. Aku tahu bahwa setiap orang sibuk dan mungkin ada yang sedang dikejar deadline, tapi kami rela meluangkan waktu untuk berdoa, tanpa berpikir soal waktu. Kalau kami masih berpikir berapa lama persekutuan ini berlangsung atau terus-menerus mengingatkan kapan persekutuan ini harus selesai sama halnya kami belum rela meluangkan waktu untuk berdoa. Bagaimana Tuhan rela memberkati kami kalau kami sendiri tidak rela meluangkan waktu khusus bersama dengan Tuhan.
Tanpa bermaksud menggurui saya ingin mengingatkan teman-teman yang terbiasa memulai hari dengan persekutuan doa baik di rumah atau di kantor, lakukannya dengan kerelaan hati dan jangan kuatir soal waktu dan pekerjaan. Tuhan akan peduli dengan kita jika kita benar-benar peduli dengan Tuhan
Thursday, 22 February 2007
Mawar di hari Valentine
01:32
Untuk pertama kalinya aku ngasih bunga Mawar ke cewekku pada hari Valentine kemaren. Awalnya sih saat di toko bunga (mo nyuri di rumah orang gak sempet hehe) sempat bingung mo ambil Mawar warna apa soalnya seingatku setiap warna mawar konon ada artinya masing-masing. Bahkan dalam sinetron JomBlo pun ada atau tidak ada durinya juga ada artinya. Tapi lupakan untuk yang soal duri itu.
Akhirnya karena bingung aku ambil Mawar Merah karena kuanggap itu melambangkan cinta sejati. Ya Tuhan semoga gak salah. Alasan lainnya karena adanya hanya Mawar Merah hehe.
Akhirnya saat ketemu itu Mawar tersebut kuberikan pada dia dan diapun menerimanya dengan sukacita plus haru. Lagian mana ada sih cewek menolak kalau di kasih bunga. Apalagi oleh cowoknya sendiri. Hehehe.
Di lain waktu aku masih ngebet ingin tahu apa makna warna sebuah Mawar. Setelah search di internet akhirnya dapat nih di situs HanyaWanita. Dan inilah artinya...
Merah (Cinta)
Ini adalah bunga dengan warna yang paling lazim dan mungkin paling sering Anda dapat dari pasangan. Warna merah diartikan sebagai lambang kecantikan sekaligus kegairahan cinta. Merah memang warna yang paling berani dan terkesan kejam, tetapi untuk warna bunga justru kebalikannya, lebih melambangkan cinta yang mendalam. Tidak heran bila Anda sering menerima mawar merah dari pasangan kan?
Putih (Kesucian, Keluguan dan Kepolosan)
Warna putih umumnya merupakan pengekspresian pada hal-hal yang bukan fisik semata. Putih melambangkan cinta secara rohani yang suci dan meneduhkan, bukan merupakan cinta badani yang penuh gairah . Di Jepang warna putih melambangkan duka cita, dari sana lahir tradisi yang menjadikan mawar putih sebagai simbol kekuatan cinta yang tidak pernah mati.
Kuning (Keceriaan, Persahabatan serta Kecemburuan)
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Bila di Amerika Serikat bunga berwarna kuning sering digunakan untuk mengungkapkan keakraban serta kesederhanaan,di Inggris justru warna ini bermakna simbol kecemburuan.
Pink (Kebahagiaan, Keanggunan dan Kepercayaan)
Pink merupakan ungkapan dari ekspresi rasa percaya. Sementara bila ingin lebih detail, pink pekat bisa berarti rasa syukur, atau ucapan terima kasih. Sementara pink muda atau pucat bisa berarti pernyataan simpati.
Coral (Keinginan atau Hasrat)
Warna ini memang mirip tone warna bebatuan. Alami dan menawan dengan warna seperti bebatuan, berunsur coklat, sedikit merah juga orange. Bila Anda ingin mengenal seseorang lebih jauh, berikan saja bunga berwarna coral ini.
Orange (Pesona)
Sebagaimana terang dan colourful-nya warna orange, warna ini juga mewakili sebuah pujian ataupun rasa terpesona pada seseorang.
Ungu (Kedewasaan serta Kekaguman)
Jangan pedulikan frase ungkapan, 'ungu si warna janda'. Bunga yang berwarna ungu justru mengungkapkan rasa kagum dan keterpikatan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan janda kan?
Akhirnya karena bingung aku ambil Mawar Merah karena kuanggap itu melambangkan cinta sejati. Ya Tuhan semoga gak salah. Alasan lainnya karena adanya hanya Mawar Merah hehe.
Akhirnya saat ketemu itu Mawar tersebut kuberikan pada dia dan diapun menerimanya dengan sukacita plus haru. Lagian mana ada sih cewek menolak kalau di kasih bunga. Apalagi oleh cowoknya sendiri. Hehehe.
Di lain waktu aku masih ngebet ingin tahu apa makna warna sebuah Mawar. Setelah search di internet akhirnya dapat nih di situs HanyaWanita. Dan inilah artinya...
Merah (Cinta)
Ini adalah bunga dengan warna yang paling lazim dan mungkin paling sering Anda dapat dari pasangan. Warna merah diartikan sebagai lambang kecantikan sekaligus kegairahan cinta. Merah memang warna yang paling berani dan terkesan kejam, tetapi untuk warna bunga justru kebalikannya, lebih melambangkan cinta yang mendalam. Tidak heran bila Anda sering menerima mawar merah dari pasangan kan?
Putih (Kesucian, Keluguan dan Kepolosan)
Warna putih umumnya merupakan pengekspresian pada hal-hal yang bukan fisik semata. Putih melambangkan cinta secara rohani yang suci dan meneduhkan, bukan merupakan cinta badani yang penuh gairah . Di Jepang warna putih melambangkan duka cita, dari sana lahir tradisi yang menjadikan mawar putih sebagai simbol kekuatan cinta yang tidak pernah mati.
Kuning (Keceriaan, Persahabatan serta Kecemburuan)
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Bila di Amerika Serikat bunga berwarna kuning sering digunakan untuk mengungkapkan keakraban serta kesederhanaan,di Inggris justru warna ini bermakna simbol kecemburuan.
Pink (Kebahagiaan, Keanggunan dan Kepercayaan)
Pink merupakan ungkapan dari ekspresi rasa percaya. Sementara bila ingin lebih detail, pink pekat bisa berarti rasa syukur, atau ucapan terima kasih. Sementara pink muda atau pucat bisa berarti pernyataan simpati.
Coral (Keinginan atau Hasrat)
Warna ini memang mirip tone warna bebatuan. Alami dan menawan dengan warna seperti bebatuan, berunsur coklat, sedikit merah juga orange. Bila Anda ingin mengenal seseorang lebih jauh, berikan saja bunga berwarna coral ini.
Orange (Pesona)
Sebagaimana terang dan colourful-nya warna orange, warna ini juga mewakili sebuah pujian ataupun rasa terpesona pada seseorang.
Ungu (Kedewasaan serta Kekaguman)
Jangan pedulikan frase ungkapan, 'ungu si warna janda'. Bunga yang berwarna ungu justru mengungkapkan rasa kagum dan keterpikatan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan janda kan?
Subscribe to:
Posts (Atom)